assalamualaikum.....

Selamat datang di taman hati mumtaz, semoga blog ini bermanfaat bagi yang membacanya.....

Monday, January 2, 2012

Apa itu pacaran???

Istilah pacaran itu sebenarnya bukan bahasa hukum, karena pengertian dan batasannya tidak sama buat setiap orang. Dan sangat mungkin berbeda dalam setiap budaya. Karena itu kami tidak akan menggunakan istilah `pacaran` dalam masalah ini, agar tidak salah konotasi.

I. Tujuan Pacaran

Ada beragam tujuan orang berpacaran. Ada yang sekedar iseng, atau mencari teman bicara, atau lebih jauh untuk tempat mencurahkan isi hati. Dan bahkan ada juga yang memang menjadikan masa pacaran sebagai masa perkenalan dan penjajakan dalam menempuh jenjang pernikahan.

Namun tidak semua bentuk pacaran itu bertujuan kepada jenjang pernikahan. Banyak diantara pemuda dan pemudi yang lebih terdorong oleh rasa ketertarikan semata, sebab dari sisi kedewasaan, usia, kemampuan finansial dan persiapan lainnya dalam membentuk rumah tangga, mereka sangat belum siap.

Secara lebih khusus, ada yang menganggap bahwa masa pacaran itu sebagai masa penjajakan, media perkenalan sisi yang lebih dalam serta mencari kecocokan antar keduanya. Semua itu dilakukan karena nantinya mereka akan membentuk rumah tangga. Dengan tujuan itu, sebagian norma di tengah masyarakat membolehkan pacaran. Paling tidak dengan cara membiarkan pasangan yang sedang pacaran itu melakukan aktifitasnya. Maka istilah apel malam minggu menjadi fenomena yang wajar dan dianggap sebagai bagian dari aktifitas yang normal.

II. Apa Yang Dilakukan Saat Pacaran ?

Lepas dari tujuan, secara umum pada saat berpacaran banyak terjadi hal-hal yang diluar dugaan. Bahkan beberapa penelitian menyebutkan bahwa aktifitas pacaran pelajar dan mahasiswa sekarang ini cenderung sampai kepada level yang sangat jauh. Bukan sekedar kencan, jalan-jalan dan berduaan, tetapi data menunjukkan bahwa ciuman, rabaan anggota tubuh dan bersetubuh secara langsung sudah merupakan hal yang biasa terjadi.

Sehingga kita juga sering mendengar istilah “chek-in”, yang awalnya adalah istilah dalam dunia perhotelan untuk menginap. Namun tidak sedikit hotel yang pada hari ini berali berfungsi sebagai tempat untuk berzina pasangan pelajar dan mahasiswa, juga pasanga-pasangan tidak syah lainnya. Bahkan hal ini sudah menjadi bagian dari lahan pemasukan tersendiri buat beberapa hotel dengan memberi kesempatan chek-in secara short time, yaitu kamar yang disewakan secara jam-jaman untuk ruangan berzina bagi para pasangan di luar nikah.

Pihak pengelola hotel sama sekali tidak mempedulikan apakah pasangan yang melakukan chek-in itu suami istri atau bulan, sebab hal itu dianggap sebagai hak asasi setiap orang.

Selain di hotel, aktifitas percumbuan dan hubungan seksual di luar nikah juga sering dilakukan di dalam rumah sendiri, yaitu memanfaatkan kesibukan kedua orang tua. Maka para pelajar dan mahasiswa bisa lebih bebas melakukan hubungan seksual di luar nikah di dalam rumah mereka sendiri tanpa kecurigaan, pengawasan dan perhatian dari anggota keluarga lainnya.

Data menunjukkan bahwa seks di luar nikah itu sudah dilakukan bukan hanya oleh pasangan mahasiswa dan orang dewasa, namun anak-anak pelajar menengah atas (SLTA) dan menengah pertama (SLTP) juga terbiasa melakukannya. Pola budaya yang permisif (serba boleh) telah menjadikan hubungan pacaran sebagai legalisasi kesempatan berzina. Dan terbukti dengan maraknya kasus `hamil di luar nikah` dan aborsi ilegal.

Fakta dan data lebih jujur berbicara kepada kita ketimbang apologi. Maka jelaslah bahwa praktek pacaran pelajar dan mahasiswa sangat rentan dengan perilaku zina yang oleh sistem hukum di negeri ini sama sekali tidak dilarang. Sebab buat sistem hukum sekuluer warisan penjajah, zina adalah hak asasi yang harus dilindungi. Sepasang pelajar atau mahasiswa yang berzina, tidak bisa dituntut secara hukum. Bahkan bila seks bebas itu menghasilkan hukuman dari Allah berupa AIDS, para pelakunya justru akan diberi simpati.

III. Pacaran Dalam Pandangan Islam

a. Islam Mengakui Rasa Cinta

Islam mengakui adanya rasa cinta yang ada dalam diri manusia. Ketika seseorang memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah Yang Kuasa. Termasuk rasa cinta kepada wanita (lawan jenis) dan lain-lainnya.

`Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik .`(QS. Ali Imran :14).
Khusus kepada wanita, Islam menganjurkan untuk mewujudkan rasa cinta itu dengan perlakuan yang baik, bijaksana, jujur, ramah dan yang paling penting dari semua itu adalah penuh dengan tanggung-jawab. Sehingga bila seseorang mencintai wanita, maka menjadi kewajibannya untuk memperlakukannya dengan cara yang paling baik.

Rasulullah SAW bersabda,`Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap pasangannya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku`.

b. Cinta Kepada Lain Jenis Hanya Ada Dalam Wujud Ikatan Formal

Namun dalam konsep Islam, cinta kepada lain jenis itu hanya dibenarkan manakala ikatan di antara mereka berdua sudah jelas. Sebelum adanya ikatan itu, maka pada hakikatnya bukan sebuah cinta, melainkan nafsu syahwat dan ketertarikan sesaat.

Sebab cinta dalam pandangan Islam adalah sebuah tanggung jawab yang tidak mungkin sekedar diucapkan atau digoreskan di atas kertas surat cinta belaka. Atau janji muluk-muluk lewat SMS, chatting dan sejenisnya. Tapi cinta sejati haruslah berbentuk ikrar dan pernyataan tanggung-jawab yang disaksikan oleh orang banyak.

Bahkan lebih `keren`nya, ucapan janji itu tidaklah ditujukan kepada pasangan, melainkan kepada ayah kandung wanita itu. Maka seorang laki-laki yang bertanggung-jawab akan berikrar dan melakukan ikatan untuk menjadikan wanita itu sebagai orang yang menjadi pendamping hidupnya, mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya dan menjadi `pelindung` dan `pengayomnya`. Bahkan `mengambil alih` kepemimpinannya dari bahu sang ayah ke atas bahunya.

Dengan ikatan itu, jadilah seorang laki-laki itu `laki-laki sejati`. Karena dia telah menjadi suami dari seorang wanita. Dan hanya ikatan inilah yang bisa memastikan apakah seorang laki-laki itu betul serorang gentlemen atau sekedar kelas laki-laki iseng tanpa nyali. Beraninya hanya menikmati sensasi seksual, tapi tidak siap menjadi “the real man”.

Dalam Islam, hanya hubungan suami istri sajalah yang membolehkan terjadinya kontak-kontak yang mengarah kepada birahi. Baik itu sentuhan, pegangan, cium dan juga seks. Sedangkan di luar nikah, Islam tidak pernah membenarkan semua itu. Akhlaq ini sebenarnya bukan hanya monopoli agama Islam saja, tapi hampir semua agama mengharamkan perzinaan. Apalagi agama Kristen yang dulunya adalah agama Islam juga, namun karena terjadi penyimpangan besar sampai masalah sendi yang paling pokok, akhirnya tidak pernah terdengar kejelasan agama ini mengharamkan zina dan perbuatan yang menyerampet kesana.

Sedangkan pemandangan yang kita lihat dimana ada orang Islam yang melakukan praktek pacaran dengan pegang-pegangan, ini menunjukkan bahwa umumnya manusia memang telah terlalu jauh dari agama. Karena praktek itu bukan hanya terjadi pada masyarakat Islam yang nota bene masih sangat kental dengan keaslian agamanya, tapi masyakat dunia ini memang benar-benar telah dilanda degradasi agama.

Barat yang mayoritas nasrani justru merupakan sumber dari hedonisme dan permisifisme ini. Sehingga kalau pemandangan buruk itu terjadi juga pada sebagian pemuda-pemudi Islam, tentu kita tidak melihat dari satu sudut pandang saja. Tapi lihatlah bahwa kemerosotan moral ini juga terjadi pada agama lain, bahkan justru lebih parah.

c. Pacaran Bukan Cinta

Melihat kecenderungan aktifitas pasangan muda yang berpacaran, sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah media untuk saling mencinta satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejati tidak berbentuk sebuah perkenalan singkat, misalnya dengan bertemu di suatu kesempatan tertentu lalu saling bertelepon, tukar menukar SMS, chatting dan diteruskan dengan janji bertemu langsung.

Semua bentuk aktifitas itu sebenarnya bukanlah aktifitas cinta, sebab yang terjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali tidak ada ikatan formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatan tanggung-jawab antara mereka. Bahkan tidak ada kepastian tentang kesetiaan dan seterusnya.

Padahal cinta itu adalah memiliki, tanggung-jawab, ikatan syah dan sebuah harga kesetiaan. Dalam format pacaran, semua instrumen itu tidak terdapat, sehingga jelas sekali bahwa pacaran itu sangat berbeda dengan cinta.

d. Pacaran Bukanlah Penjajakan / Perkenalan

Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling melakukan penjajakan, atau perkenalan atau mencari titik temu antara kedua calon suami istri, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajagan itu tidak adil dan kurang memberikan gambaran sesungguhnya atas data yang diperlukan dalam sebuah persiapan pernikahan.

Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,`Wanita itu dinikahi karena 4 hal : [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat. (HR. Bukhari Kitabun Nikah Bab Al-Akfa` fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha` Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)
Selain keempat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkin diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini, peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting.

Inilah proses yang dikenal dalam Islam sebagai ta`aruf. Jauh lebih bermanfaat dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasangan yang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja. Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up, berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya.

Istri tidak selalu dalam kondisi bermake-up, tidak setiap saat berbusana terbaik dan juga lebih sering bertemu dengan suaminya dalam keadaan tanpa parfum dan acak-acakan. Bahkan rumah yang mereka tempati itu bukanlah tempat-tempat indah mereka dulu kunjungi sebelumnya. Setelah menikah mereka akan menjalani hari-hari biasa yang kondisinya jauh dari suasana romantis saat pacaran.

Maka kesan indah saat pacaran itu tidak akan ada terus menerus di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah penjajakan yang jujur, sebaliknya bisa dikatakan sebuah penyesatan dan pengelabuhan.

Dan tidak heran bila kita dapati pasangan yang cukup lama berpacaran, namun segera mengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi. Padahal mereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam hitungan hari. Pacaran bukanlah perkenalan melainkan ajang kencan saja.



Cinta adalah...


Tuhan ciptakan 100 bahagian kasih sayang. 99 disimpan disisinya dan hanya 1 bahagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bahagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana takut anaknya terpijak.
Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.
Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.
Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta !
Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.
Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.~ Hamka
Kata-kata cinta yang lahir hanya sekadar di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya.
Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya
Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.
Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu.
Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.
Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.

Tuesday, December 27, 2011

Surat cinta dari manusia yang malam-malamnya penuh cinta

Wahai orang-orang yang terpejam matanya, Perkenankanlah kami,
manusia-manusia malam menuliskan sebuah surat cinta kepadamu. Seperti
halnya cinta kami pada waktu malam-malam yang kami rajut di sepertiga
terakhir. Atau seperti cinta kami pada keagungan dan rahasianya yang penuh
pesona. Kami tahu dirimu bersusah payah lepas tengah hari berharap intan
dan mutiara dunia. Namun kami tak perlu bersusah payah, sebab malam-malam
kami berhiaskan intan dan mutiara dari surga.
Wahai orang-orang yang terlelap, Sungguh nikmat malam-malammu. Gelapnya
yang pekat membuat matamu tak mampu melihat energi cahaya yang tersembunyi
di baliknya. Sunyi senyapnya membuat dirimu hanyut tak menghiraukan seruan
cinta. Dinginnya yang merasuk semakin membuat dirimu terlena,menikmati
tidurmu di atas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan
gulingmu, bergeliat manja di balik selimutmu yang demikian hangatnya.
Aduhai kau sangat menikmatinya.


Wahai orang-orang yang terlena, Ketahuilah, kami tidak seperti dirimu !!
Yang setiap malam terpejam matanya, yang terlelap pulas tak terkira. Atau
yang terlena oleh suasananya yang begitu menggoda. Kami tidak seperti
dirimu !! Kami adalah para perindu kamar di surga. Tak pernahkah kau
dengar Sang Insan Kamil, Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya di surga
itu ada kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya
terlihat dari luar. Disediakan untuk mereka yang memberi makan orang-orang
yang memerlukannya, menyebarkan salam serta mendirikan sholat pada saat
manusia terlelap dalam tidur malam.” Sudahkah kau dengar tadi ? Ya, sebuah
kamar yang menakjubkan untuk kami dan orang-orang yang mendirikan sholat
pada saat manusia-manusia yang lain tertutup mata dan hatinya.


Wahai orang-orang yang keluarganya hampa cinta, Kau pasti pernah mendengar
namaku disebut. Aku Abu Hurairah, Periwayat Hadist. Kerinduanku akan
sepertiga malam adalah hal yang tak terperi. Penghujung malam adalah
kenikmatanku terbesar. Tapi tahukah kau ? Kenikmatan itu tidak serta merta
kukecap sendiri. Kubagi malam-malamku yang penuh syahdu itu menjadi tiga.
Satu untukku, satu untuk istriku tercinta dan satu lagi untuk pelayan yang
aku kasihi. Jika salah satu dari kami selesai mendirikan sholat, maka kami
bersegera membangunkan yang lain untuk menikmati bagiannya. Subhanallah,
tak tergerakkah dirimu ? Pedulikah kau pada keluargamu ? Adakah kebaikan
yang kau inginkan dari mereka ? Sekedar untuk membangunkan orang-orang
yang paling dekat denganmu, keluargamu ?


Lain lagi dengan aku, Nuruddin Mahmud Zanki. Sejarah mencatatku sebagai
Sang Penakluk kesombongan pasukan salib. Suatu kali seorang ulama tersohor
Ibnu Katsir mengomentari diriku, katanya, ” Nuruddin itu kecanduan sholat
malam, banyak berpuasa dan berjihad dengan akidah yang benar.” Kemenangan
demi kemenangan aku raih bersama pasukanku. Bahkan pasukan musuh itu
terlibat dalam sebuah perbincangan seru. Kata mereka, ” Nuruddin Mahmud
Zanki menang bukan karena pasukannya yang banyak. Tetapi lebih karena dia
mempunyai rahasia bersama Tuhan”. Aku tersenyum, mereka memang benar.
Kemenangan yang kuraih adalah karena do’a dan sholat-sholat malamku yang
penuh kekhusyu’an. Tahukah kau dengan orang yang selalu setia
mendampingiku ? Dialah Istriku tercinta, Khotun binti Atabik. Dia adalah
istri shalehah di mataku, terlebih di mata Alloh. Malam-malam kami adalah
malam penuh kemesraan dalam bingkai Tuhan.
Gemerisik dedaunan dan desahan angin seakan menjadi pernak-pernik kami
saat mendung di mata kami jatuh berderai dalam sujud kami yang panjang.
Kuceritakan padamu suatu hari ada kejadian yang membuat belahan jiwaku itu
tampak murung. Kutanyakan padanya apa gerangan yang membuatnya resah. Ya
Alloh, ternyata dia tertidur, tidak bangun pada malam itu, sehingga
kehilangan kesempatan untuk beribadah. Astaghfirulloh, aku menyesal telah
membuat dia kecewa. Segera setelah peristiwa itu kubayar saja penyesalanku
dengan mengangkat seorang pegawai khusus untuknya. Pegawai itu
kuperintahkan untuk menabuh genderang agar kami terbangun di sepertiga
malamnya.


Wahai orang-orang yang terbuai, Kau pasti mengenalku dalam kisah
pembebasan Al Aqso, rumah Allah yang diberkati. Akulah pengukir tinta emas
itu, seorang Panglima Perang, Sholahuddin Al-Ayyubi. Orang-orang yang
hidup di zamanku mengenalku tak lebih dari seorang Panglima yang selalu
menjaga sholat berjama’ah. Kesenanganku adalah mendengarkan bacaan
Alqur’an yang indah dan syahdu. Malam-malamku adalah saat yang paling
kutunggu. Saat-saat dimana aku bercengkerama dengan Tuhanku. Sedangkan
siang hariku adalah perjuangan-perjuangan nyata, pengejawantahan cintaku
pada-Nya.


Wahai orang-orang yang masih saja terlena, Pernahkah kau mendengar kisah
penaklukan Konstantinopel ? Akulah orang dibalik penaklukan itu, Sultan
Muhammad Al Fatih. Aku sangat lihai dalam memimpin bala tentaraku. Namun
tahukah kau bahwa sehari sebelum penaklukan itu, aku telah memerintahkan
kepada pasukanku untuk berpuasa pada siang harinya. Dan saat malam tiba,
kami laksanakan sholat malam dan munajat penuh harap akan pertolongan-Nya.
Jika Alloh memberikan kematian kepada kami pada siang hari disaat kami
berjuang, maka kesyahidan itulah harapan kami terbesar. Biarlah siang hari
kami berada di ujung kematian, namun sebelum itu, di ujung malamnya Alloh
temukan kami berada dalam kehidupan. Kehidupan dengan menghidupi malam
kami.


Wahai orang-orang yang gelap mata dan hatinya, Pernahkah kau dengar kisah
Penduduk Basrah yang kekeringan ? Mereka sangat merindukan air yang keluar
dari celah-celah awan. Sebab terik matahari terasa sangat menyengat,
padang pasir pun semakin kering dan tandus. Suatu hari mereka sepakat
untuk mengadakan Sholat Istisqo yang langsung dipimpin oleh seorang ulama
di masa itu. Ada wajah-wajah besar yang turut serta di sana, Malik bin
Dinar, Atho’ As-Sulami, Tsabit Al-Bunani. Sholat dimulai, dua rakaat pun
usai. Harapan terbesar mereka adalah hujan-hujan yang penuh berkah. Namun
waktu terus beranjak siang, matahari kian meninggi, tak ada tanda-tanda
hujan akan turun. Mendung tak datang, langit membisu, tetap cerah dan
biru. Dalam hati mereka bertanya-tanya, adakah dosa-dosa yang kami lakukan
sehingga air hujan itu tertahan di langit ? Padahal kami semua adalah
orang-orang terbaik di negeri ini ? Sholat demi sholat Istisqo didirikan,
namun hujan tak kunjung datang.
Hingga suatu malam, Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani terjaga di sebuah
masjid. Saat malam itulah, aku, Maimun, seorang pelayan, berwajah kuyu,
berkulit hitam dan berpakaian usang, datang ke masjid itu. Langkahku
menuju mihrab, kuniatkan untuk sholat Istisqo sendirian, dua orang
terpandang itu mengamati gerak gerikku. Setelah sholat, dengan penuh
kekhusyu’an kutengadahkan tanganku ke langit, seraya berdo’a : “Tuhanku,
betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon
sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah
ini karena apa yang ada pada-Mu sudah habis ? Ataukah perbendaharaan
kekuasaan-Mu telah hilang ? Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan
kecintaan-Mu kepadaku agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya.”
Lalu apa gerangan yang terjadi ? Angin langsung datang bergemuruh dengan
cepat, mendung tebal di atas langit. Langit seakan runtuh mendengar do’a
seorang pelayan ini. Do’aku dikabulkan oleh Tuhan, hujan turun dengan
derasnya, membasahi bumi yang tandus yang sudah lama merindukannya.
Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani pun terheran-heran dan kau pasti juga
heran bukan ? Aku, seorang budak miskin harta, yang hitam pekat, mungkin
lebih pekat dari malam-malam yang kulalui. Hanya manusia biasa, tapi aku
menjadi sangat luar biasa karena doaku yang makbul dan malam-malam yang
kupenuhi dengan tangisan dan taqarrub pada-Nya.


Wahai orang-orang yang masih saja terpejam, Penghujung malam adalah
detik-detik termahal bagiku, Imam Nawawi. Suatu hari muridku menanyakan
kepadaku, bagaimana aku bisa menciptakan berbagai karya yang banyak ?
Kapan aku beristirahat, bagaimana aku mengatur tidurku ? Lalu kujelaskan
padanya, “Jika aku mengantuk, maka aku hentikan sholatku dan aku bersandar
pada buku-bukuku sejenak. Selang beberapa waktu jika telah segar kembali,
aku lanjutkan ibadahku.” Aku tahu kau pasti berpikir bahwa hal ini sangat
sulit dijangkau oleh akal sehatmu. Tapi lihatlah, aku telah melakukannya,
dan sekarang kau bisa menikmati karya-karyaku.


Wahai orang-orang yang tergoda, Begitu kuatkah syetan mengikat tengkuk
lehermu saat kau tertidur pulas ? Ya, sangat kuat, tiga ikatan di tengkuk
lehermu !! Dia lalu menepuk setiap ikatan itu sambil berkata, “Hai
manusia, Engkau masih punya malam panjang, karena itu tidurlah !!”. Hei,
Sadarlah, sadarlah, jangan kau dengarkan dia, itu tipu muslihatnya !
Syetan itu berbohong kepadamu. Maka bangunlah, bangkitlah, kerahkan
kekuatanmu untuk menangkal godaannya. Sebutlah nama Alloh, maka akan lepas
ikatan yang pertama. Kemudian, berwudhulah, maka akan lepas ikatan yang
kedua. Dan yang terakhir, sholatlah, sholat seperti kami, maka akan
lepaslah semua ikatan-ikatan itu.


Wahai orang-orang yang masih terlelap, Masihkah kau menikmati
malam-malammu dengan kepulasan ? Masihkah ? Adakah tergerak hatimu untuk
bangkit, bersegera, mendekat kepada-Nya, bercengkerama dengan-Nya, memohon
keampunan-Nya, meski hanya 2 rakaat ? Tidakkah kau tahu, bahwa Alloh turun
ke langit bumi pada 1/3 malam yang pertama telah berlalu. Tidakkah kau
tahu, bahwa Dia berkata, “Akulah Raja, Akulah Raja, siapa yang memohon
kepada-Ku akan Kukabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Kuberi, dan
siapa yang memohon ampun kepada-Ku akan Ku ampuni. Dia terus berkata
demikian, hingga fajar merekah.
Wahai orang-orang yang terbujuk rayu dunia, Bagi kami, manusia-manusia
malam, dunia ini sungguh tak ada artinya. Malamlah yang memberi kami
kehidupan sesungguhnya. Sebab malam bagi kami adalah malam-malam yang
penuh cinta, sarat makna. Masihkah kau terlelap ? Apakah kau menginginkan
kehidupan sesungguhnya ? Maka ikutilah jejak kami, manusia-manusia malam.
Kelak kau akan temukan cahaya di sana, di waktu sepertiga malam. Namun
jika kau masih ingin terlelap, menikmati tidurmu di atas pembaringan yang
empuk, bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja di balik
selimutmu yang demikian hangatnya, maka surat cinta kami ini sungguh tak
berarti apa-apa bagimu. Semoga Alloh mempertemukan kita di sana, di
surga-Nya, mendapati dirimu dan diri kami dalam kamar-kamar yang sisi
luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar.
Semoga…

Sunday, December 25, 2011

Berkaca pada air...


Sudahkah anda minum air putih hari ini? Dari delapan gelas yang dianjurkan ahli kesehatan, sudah berapa gelas yang anda teguk? Jangan sepelekan masalah minum air putih ini. Jika lebih sedikt dari yang dianjurkan, salah –salah organ tubih anda akan berontak dengan ekspresi rasa sakit dimana-mana.
                Oh, air, sadarkah kita betapa berartinya ia? Makhluk manapun tidak akan lama bertahan hidup tanpa air. Tak heran banyak pihak yang menobatkan air sebagai sumber kehidupan. Sayangnya penghargaan kita terhadap air masih sangat kurang. Kita tak sayang menggunakan air berlebihan dari keperluan karena mudah mendapatkannya, padahal dalam berwudhu saja islam menganjurkan kita untuk menghemat air.
                Namun air tak pernah minta penghargaan kita. Ia malah menambah manfaat dirinya dengan pelajaran lain yang sangat luar biasa. Ya, perjalanan hidup bagi mereka yang mau mengubah kualitas dirinya.
Kebenaran akan bertahan lama
                “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air dilembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang... Demikian allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya....” (QS Ar Ra’d : 17)
                Allah memberi perumpamaan yang hak dan yang bathil dengan air dan buihnya. Air murni diibaratkan sebagai yang hak, akan terus mengalir melintasi medan dan rintangannya menuju ke laut. Itulah kebenaran, ia mungkin sering terdesak tapi tidak pernah bisa dihentikan. Sedangkan buih dianalogikan sebagai kebathilan yang akan hilang lenyap sebelum mencapai apapun, karena kebathilan itu rapuh.
Fokus dan Ulet
                Air yang tampak lemah, ternyata mampu melubangi batu. Ia membuktikan bahwa pekerjaan yang mustahil sekalipun, akan berhasil dilakukan jika dikerjakan dengan kesabaran dan kontinyu.
                Air yang mengalir dari pegunungan terus turun kemuara juga hanya fokus mencapai satu tujuan, yaitu laut. Diperjalanan ia berbenturan dengan batu, pasir, daun-daunan, reranting pepohonan dan segala benda alam lainnya yang ternyata tak membuat fokusnya berubah, ia tetap ulet menuju laut. Jika kita terapkan prinsip fokus dan ulet ini, maka tujuan yang palinga sulit pun pasti bisa kita capai.
Menebar dan Meninggalkan Manfaat
                Dimanapun ia mengalir, air selalu menambah kelangsungan hidup bagi apapun. Bagi manusia, tanaman atau binatang, semua tumbuh dengan adanya air. Ini menginspirasi kita untuk selalu memberi manfaat bagi sekeliling, terlepas dari apakah orang lain mengapresiasi atau tidak, manfaat tak boleh berkurang.
                Setelah melewati sebuah benda, air pun akan meninggalkan jejak basah. Jejak ini mengingatkan kita agar kebaikan yang kita tebar tidak hanya terasa disaat kita ada. Idealnya ketika kita tiadapun jejak kebaikan itu masih bisa dirasakan oleh orang lain.
                “...Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap dibumi. Demikianlah allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (QS Ar Ra’d : 17)
Bergerak Agar Berkualitas, Diam Menjadi Penyakit
                Air mengjarkan pentingnya mengikuti dan melakukan perubahan. Ia terus bergerak, berubah menyesuaikan diri dengan tempat yang dilewatinya. Pergerakannya yang konsisten membuatnya tetap jernih, tidak berbau dan menyegarkan.
                Sebaliknya, air yang menggenang, tidak mengalir, dan statis, akan berubah warnanya, mengeruh, menguning, lalu menghitam. Bermacam-macam kuman hidup dan berkembang biak, mengeluarkan bau tak sedap, dan akhirnya menjadi sumber segala penyakit dan tempat berkembang biak nyamuk pembawa wabah.
                Sejalan dengan karakter manusia, bagi siapa yang terus melakukan perubahan maka pengalaman hidupnya akan makin terasah dan berkualitas. Sedangkan yang enggan merubah diri, penyakit dan kegagalan akan terus bertambah tumbuh didalam diri kita.
                “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain,” (Al Insyirah : 7)
Tetap Butuh Lingkungan yang Kondusif
                Bahwa airpun mempunyai potensi  merusak jika debitnya tidak terkendali atau ‘pasrah’ saja ketika masuk ketempat yang tercemar, ini juga merupakan hikmah allah yang luar biasa. Artinya, Betapapun banyaknya kebaikan yang dimiliki, kita tidak mungkin shaleh sendirian. Harus ada lingkungan kondusif yang mampu menjaga keshalehan kita. Karena air tak mungkin mengancam dan tercemar jika tanpa andil campurtangan manusia yang merusak lingkungan, wallahua’lam



Wednesday, November 30, 2011

Tentang cemburu :)

Al-ghirah (rasa cemburu) merupakan fitrah dasar pada diri wanita, yang mengalir didalam dirinya dan berjalan di aliran darahnya. Maka wanita muslimah harus menjaga fitrah ini agar tidak terlumuri gangguan dan bisikan-bisikan syetan. Dia harus mengekangnya dengan tali iman dan membelenggunya dengan ikatan taqwa, agar rasa cemburu itu justru memberikan hasil yang baik, sehingga dia bisa memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat nanti.

Namun, jika seorang wanita memberi angin dan membuka peluang bagi rasa cemburu, maka ia akan dihadapkan pada resiko yang tidak enteng, syetan akan menyeretnya peda kedurhakaan terhadap Allah dan mengundang kemarahan-NYA. Selanjutnya dia lebih suka berdusta, berbuat zalim, melanggar kehormatan dan menyebarkan berbagai fitnah.

Kalau sudah begitu rumah tangganya tentu akan diselimuti kabut penderitaan, hatinya digelayuti berbagai ilusi dan praduga-praduga yang berkepanjangan.

Cemburu tidak akan muncul kecuali ada rasa cinta, selagi cinta ini kuat, maka tingkat kecemburuan wanita kepada suaminya juga semakin kuat.






Tuesday, November 29, 2011

Menjadi yang paling di cintai...

”Bukan daging-daging unta dan darahnya itu yang dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya…” (Al-Hajj: 37)

Maha Agung Allah yang Menciptakan kehidupan dengan segala kelengkapannya. Ada kelengkapan pokok, ada juga yang cuma hiasan. Sayangnya, tak sedikit manusia yang terkungkung pada jeratan kelengkapan aksesoris.

Berkurbanlah, Anda akan menjadi yang paling kaya

Logika sederhana manusia kerap mengatakan kalau memberi berarti terkurangi. Seseorang yang sebelumnya punya lima mangga misalnya, akan berkurang jika ia memberikan dua mangga ke orang lain. Logika inilah yang akhirnya menghalangi orang untuk berkurban.

Jika bukan karena iman yang dalam, logika ini akan terus bercokol dalam hati. Ia akan terus menenggelamkan manusia dalam kehidupan yang sempit, hingga ajal menjemput. Sulit menerjemahkan sebuah pemberian sebagai keuntungan. Sebaliknya, pemberian dan pengorbanan adalah sama dengan pengurangan.

Rasulullah saw. mengajarkan logika yang berbeda. Beliau saw. mengikis sifat-sifat kemanusiaan yang cinta kebendaan menjadi sifat mulia yang cinta pahala. Semakin banyak memberi, orang akan semakin kaya. Karena kaya bukan pada jumlah harta, tapi pada ketinggian mutu jiwa.

Rasulullah saw. mengatakan, “Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta benda. Tetapi, kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati).” (HR. Abu Ya’la)

Berkurbanlah, Anda akan menjadi orang sukses

Sukses dalam hidup adalah impian tiap orang. Tak seorang pun yang ingin hidup susah: rezeki menjadi sempit, kesehatan menjadi langka, dan ketenangan cuma dalam angan-angan. Hidup seperti siksaan yang tak kunjung usai. Semua langkah seperti selalu menuju kegagalan. Buntu.

Namun, tak sedikit yang cuma berputar-putar pada jalan yang salah. Padahal, rumus jalan bahagia sangat sederhana. Di antaranya, kikis segala sifat kikir, Anda akan menemukan jalan hidup yang serba mudah.

Allah swt. berfirman, “Ada pun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan ada pun yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (Al-Lail: 5-10)

Kalau jalan hidup menjadi begitu mudah, semua halangan akan terasa ringan. Inilah pertanda kesuksesan hidup seseorang. Semua yang dicita-citakan menjadi kenyataan. Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “…dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang sukses.” (Al-Hasyr: 9)

Berkurbanlah, Anda akan sangat dekat dengan Yang Maha Sayang

Sebenarnya, Allah sangat dekat dengan hamba-hambaNya melebihi dekatnya sang hamba dengan urat lehernya. “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.” (Qaaf: 16)

Namun, ketika ada hijab atau dinding, yang dekat menjadi terasa sangat jauh. Karena hijab, sesuatu menjadi tak terlihat, tak terdengar, bahkan tak terasa sama sekali. Dan salah satu hijab yang kerap menghalangi kedekatan seorang hamba dengan Penciptanya adalah kecintaan pada harta.

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk tidak berharta. Atau, menjadi miskin dulu agar bisa dekat dengan Allah swt. Tentu bukan itu. Tapi, bagaimana meletakkan harta atau fasilitas hidup lain cuma di tangan saja. Bukan tertanam dalam hati. Dengan kata lain, harta cuma sebagai sarana. Bukan tujuan.

Karena itu, perlu pembiasaan-pembiasaan agar jiwa tetap terdidik. Dan salah satu pembiasaan itu adalah dengan melakukan kurban. Karena dari segi bahasa saja, kurban berasal dari kata qoroba-yaqrobu-qurbanan artinya pendekatan. Berkurban adalah upaya seorang hamba Allah untuk mengikis hijab-hijab yang menghalangi kedekatannya dengan Yang Maha Sayang.

Berkurbanlah, Anda akan menjadi yang paling dicintai

Setiap cinta butuh pengorbanan. Kalau ada orang yang ingin dicintai orang lain tanpa memberikan pengorbanan, sebenarnya ia sedang memperlihatkan cinta palsu. Cinta ini tidak pernah abadi. Cuma bergantung pada sebuah kepentingan sementara.

ummi, i love you...

Sahabat, ingatkah engkau, ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu, tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu ..? Ingatkah engkau ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu?, dan ingatkah engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit?

Simpanlah sejenak kesibukan-kesibukan duniawi yang selalu membuatmu lupa untuk pulang.

Segeralah jenguk ibumu yang berdiri menantimu di depan pintu bahkan sampai malampun kian larut.

Jangan biarkan engkau kehilangan saat-saat yang akan kau rindukan di masa datang. ketika ibu telah tiada, tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kita, tak ada lagi senyuman indah ... tanda bahagia.

Yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya, yang ada hanyalah baju yang digantung di lemari kamarnya.

Tak ada lagi yang menyiapkan sarapan pagi untukmu makan, tak ada lagi yang rela merawatmu sampai larut malam ketika engkau sakit...Tak ada lagi dan tak akan ada lagi yang meneteskan air mata mendo'akanmu disetiap hembusan nafasnya.

Kawan berdo'alah untuk kesehatannya dan rasakanlah pelukan cinta dan kasih sayangnya jangan biarkan engkau menyesal di masa datang kembalilah pada ibu yang selalu menyayangimu .. Kenanglah semua - cinta dan kasih sayangnya ...